Harimau Sumatera kembali ke alam liar setelah pulih dari cedera akibat jerat – Nasional

Seekor harimau Sumatera betina yang diselamatkan pihak berwenang pada Maret setelah terjerat perangkap kawat dikembalikan ke alam liar pada Minggu di area restorasi habitat di Riau.

Sebelumnya, tim ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta melakukan studi kelayakan habitat untuk menentukan lokasi pelepasan harimau, kata Corina, kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau Suharyono.

“Tim tersebut dipimpin oleh Prof. Satyawan Pudyatmoko dari Fakultas Kehutanan UGM,” ujarnya, Senin seperti dilansir kompas.com.

Dia menjelaskan, Corina ditemukan terjebak dalam perangkap kawat nilon pada 26 Maret lalu di perkebunan pulp milik PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Estate Meranti di Kabupaten Pelalawan.

“Tenaga medis kami berhasil membebaskan Corina sehari kemudian. Kaki kanan depannya terluka parah akibat jerat,” kata Suharyono.

Ia memperkirakan Corina telah terperangkap selama tiga hari sebelum petugas lapangan PT RAPP menemukannya di pinggiran perkebunan.

Baca juga: Kembali ke Alam Liar: Harimau Sumatera yang Ditangkap Dilepas ke Gn. Taman Nasional Leuser

Harimau tersebut kemudian dipindahkan ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera (PRHSD) Dharmasraya di Sumatera Barat untuk menjalani perawatan intensif.

“Hasil lab menunjukkan bahwa Corina mengalami anemia normokromik makrositik non-regenerasi akibat defisiensi nutrisi,” kata Suharyono.

Luka dalam dan lebar juga ditemukan di kakinya. Untung uratnya masih utuh, tambahnya.

Setelah menjalani perawatan intensif di kandang karantina, Corina dipindahkan ke kandang agar para ahli bisa mengamati perilakunya serta kemampuannya menangkap mangsa.

“Setelah sembilan bulan perawatan, Corina pulih total. Berat badannya pun naik dari 77,8 kilogram menjadi 89 kilogram,” imbuhnya.

Corina dipindahkan ke kandang habituasi di lokasi pelepasliaran, Senin lalu. Pihak berwenang kemudian memasang kalung pelacak GPS dengan pemancar satelit iridium padanya pada 17 Desember untuk mengamati dan memetakan pergerakannya.

Baterai di kerahnya dapat bertahan hingga dua tahun dan secara otomatis akan terbuka pada Oktober 2022.

“Kerah tersebut juga dilengkapi pemancar radio sehingga pergerakan Corina masih bisa dipantau menggunakan sistem triangulasi radio tracking receiver saat jangkauan satelit GPS terbatas,” kata Suharyono.

Harimau Sumatera telah terdaftar sebagai hewan yang terancam punah dalam Daftar Merah Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) sejak 2008.

Baca juga: Harimau Sumatera Ditemukan Mati, Terjerat di Riau

Perkiraan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan populasi harimau liar Sumatera per Desember 2018 tidak lebih dari 600 ekor karena hilangnya habitat dan perburuan.

Perburuan menyumbang hampir 80 persen kematian harimau Sumatera, menurut TRAFFIC, jaringan pemantauan perdagangan satwa liar global.

Pada tanggal 29 Juni, seekor harimau Sumatera ditemukan mati setelah dilaporkan menelan zat beracun di Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Seminggu sebelumnya, bangkai harimau jantan yang terkubur ditemukan di Taman Nasional Batang Gadis, Sumatera Utara, dengan kulit dan organnya hilang.

Pada bulan Mei, seekor harimau ditemukan mati di kawasan konservasi di Siak, Riau, setelah salah satu kakinya terjepit kawat. (nal)

Source