Gereja Indonesia Mendesak Jakarta untuk Menghentikan Kekerasan di Papua

20/12/2020 Indonesia (Kepedulian Kristen Internasional) – Meskipun Papua telah diintegrasikan ke dalam Republik Indonesia selama hampir enam dekade, wilayah mayoritas Kristen yang bergolak namun kaya sumber daya itu telah lama mengalami diskriminasi dan perebutan tanah dan sumber daya alam.

Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan meningkat antara pasukan keamanan Indonesia dan penduduk lokal Papua, yang mengakibatkan korban jiwa termasuk pembunuhan seorang pendeta Kristen dan seorang Katekis, yang menyebabkan banyak orang mengutuk pembunuhan di luar hukum tersebut.

Kekerasan yang terus berlangsung mendorong Perhimpunan Gereja di Indonesia (PGI) dan Persatuan Misi Evangelis bertajuk Stop Kekerasan di Papua menggelar seminar pada Kamis, 17 Desember 2020.

Salah satu temuannya adalah diskriminasi terhadap orang Papua masih marak terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Hal ini menimbulkan rasa ketidakadilan bagi Papua, sehingga mereka kerap mengungkapkan kekesalannya menjadi bagian dari Indonesia.

Mengingat pendekatan keamanan Jakarta dalam menangani kerusuhan Papua masih menjadi prioritas dan oleh karena itu eskalasi kekerasan terus meningkat, bahkan para pekerja gereja, terutama yang bertugas di daerah konflik menjadi sasaran.

Pembunuhan Pastor Yeremia Zanambani, yang diduga dilakukan aparat keamanan dua bulan lalu, membuat masyarakat Papua ketakutan. Hingga saat ini, pemerintah belum mengambil langkah komprehensif untuk mencegah pembunuhan di luar hukum di Papua.

Alhasil, menurut Tagar.id, kelompok tersebut mendesak pemerintah Indonesia bersama DPR untuk segera menghentikan pendekatan pengamanan yang sedang dilakukan yang mengakibatkan korban jiwa dan menimbulkan ketakutan yang mendalam serta trauma bagi masyarakat Papua.

“Untuk menghindari korban lebih lanjut, kami meminta agar penarikan pasukan non organik di Papua dilakukan dan untuk sementara menghentikan operasi militer di Papua,” membaca pernyataan dari pimpinan gereja yang menghadiri seminar.

Untuk wawancara, silakan hubungi Olivia Miller, Koordinator Komunikasi: [email protected]

Source