Fakta Penangkapan Sindikat Narkotika di Petamburan, Kode 555 Dugaan Pendanaan Terorisme Halaman all

JAKARTA, KOMPAS.com – Tim Gabungan Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya menangkap 11 tersangka sindikat narkoba jaringan Timur Tengah.

Para tersangka ditangkap di kawasan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (22/12/2020) malam.

Polisi menyita barang bukti berupa 196 paket sabu-sabu seberat 201 kilogram.

Baca juga: Polisi Tangkap Sindikat Narkoba di Petamburan, 201 Kilogram Sabu Disita

Metamfetamin tersebut diduga dibagikan menjelang perayaan Tahun Baru 2021 di Jakarta dan sekitarnya untuk membiayai jaringan teroris.

Berikut ini fakta terungkapnya jaringan sindikat narkoba Timur Tengah:

Kronologi

Wakil Kapolres Metro Jaya Brigjen Pol Hendro Pandowo menjelaskan, pengungkapan sindikat Nakoba berawal dari informasi yang diterima jajarannya terkait peredaran sabu di lokasi.

Polisi yang menyelidiki informasi ini berhasil menangkap sindikat narkoba jaringan internasional.

“Dari mobil Ayla, kami berhasil menyita 196 bungkus narkoba jenis sabu, kurang lebih 201 kilogram sabu kristal,” kata Hendro, Selasa, seperti dikutip Kompas TV.

Baca juga: Polisi Tangkap 11 Orang di Timur Tengah Penggerebekan Sindikat Narkoba Jaringan di Petamburan

Hendro mengatakan, sejumlah sabu yang disita bernilai Rp. 156 miliar.

Mengenai peredarannya, kata Hendro, penyidik ​​masih menyelidiki tersangka.

“Dari 201 kilogram sabu, kita bisa menyelamatkan 1 juta nyawa manusia. Nilainya kalau dipecah, Rp 156 miliar,” ucapnya.

Hingga saat ini, para tersangka masih menjalani pemeriksaan untuk mengembangkan kasus peredaran narkoba.

Ada kode 555

Polisi juga menemukan kode pada kemasan 196 paket sabu yang disimpan di dalam mobil.

Kepala Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan pada kemasan itu tertulis nomor “555” yang diyakini memiliki arti tersendiri dengan indikasi narkoba merupakan jaringan internasional.

“Kode 555 memang item jaringan internasional, dari Timur Tengah,” kata Yusri Yunus.

Yusri mengatakan, kodenya mirip dengan paket sabu yang disita dari penangkapan tiga kurir narkoba di kawasan Pagedangan, Tangerang, pada 30 Januari 2020.

Baca juga: Kode 555, Panggilan Polisi 201 Kilogram Sabu Disita di Petamburan dari Timur Tengah

“Dilihat dari kodenya, kami masih ingat Januari lalu kami berhasil mengamankan kawasan Serpong dan saat itu menembak mati pelakunya,” ujarnya.

Diduga mendanai tindakan teroris

Polisi sudah memeriksa para tersangka. Hasil sementara menunjukkan bahwa hasil distribusi sabu digunakan untuk mendanai jaringan teroris.

“Memang dari hasil profiling dan ada indikasi barang ilegal tersebut digunakan untuk mendanai terorisme di Timur Tengah,” kata Yusri.

Baca juga: 3 Klaim Polisi atas 201 Kg Sabu di Petamburan, Diduga Pembiayaan Jaringan Teroris Timur Tengah

Yusri menegaskan, penyidik ​​masih menyelidiki pernyataan 11 tersangka tersebut guna mengetahui kaitannya dengan jaringan teroris di Indonesia.

“Ini dugaan sementara. Kami terus mendalami apakah ada kaitannya dengan terorisme di Indonesia saat ini,” kata Yusri.

Persiapan tahun baru

Sementara itu, Direktur Riset Narkotika Polda Metro Jaya Kombes Mukti Juharsa mengatakan, penyaluran sejumlah sabu disiapkan menjelang perayaan tahun baru di Jakarta dan sekitarnya.

“(Beredar) di Jakarta dan sekitarnya. Mungkin juga untuk tahun baru, tapi itu banyak sekali, sejuta orang,” kata Mukti kepada wartawan.

Mukti mengatakan sabu tersebut dibawa pelaku melalui jalur laut untuk masuk ke Jakarta.

Saat ini, kata Mukti, pihaknya masih memeriksa sejumlah tersangka dan mengembangkan penangkapan pelaku lain yang menjadi sasaran.

Baca juga: Panggilan Polisi 201 Kilogram Sabu Disita di Petamburan Diduga Untuk Perayaan Tahun Baru

“Dari (jalur) laut. Kami masih kembangkan, masih ada target operasional yang lebih besar,” ujarnya.

Mukti menegaskan, penangkapan para tersangka di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, tidak ada kaitannya dengan Front Pembela Islam (FPI).

FPI diketahui bermarkas di dekat lokasi penangkapan sindikat narkoba jaringan Timur Tengah.

“Tidak ada. Apa hubungan kita. Transaksinya ada, mungkin lebih aman di sana. Anda juga tidak tahu kenapa tersangka mau ke sana,” kata Mukti.

Source