Fakta desa narkoba yang “sulit disentuh” ​​aparat keamanan, punya pasukan Rp. 200.000 sehari, butuh seminggu untuk menembus Halaman “Benteng Pertahanan” semua

KOMPAS.com – Sebuah desa di Jalan M Kadir, Ilir Barat (IB) II Palembang, Sumatera Selatan diduga menjadi pusat peredaran narkoba dan dikenal sebagai kampung narkoba.

Namun, sejauh ini desa tersebut seolah-olah belum tersentuh aparat.

Polisi akhirnya berhasil menerobos pertahanan dengan strategi tertentu dan menangkap 65 warga desa yang diduga terlibat narkoba.

Berikut beberapa fakta tentang kampung narkoba di Palembang, Sumatera Selatan:

Baca juga: Penggerebekan Desa Narkotika, 7 Warga Terjun ke Sungai Musi

Pasukan khusus serangan petasan

SHUTTERSTOCK Ilustrasi petasan.

Melaporkan dari Tribun Sumsel, Polisi diserang oleh petasan ketika mereka memasuki desa narkoba.

Penyerangan petasan tersebut dilakukan oleh sejumlah orang yang secara khusus bertugas mengawasi kedatangan polisi.

Diketahui, para kurir digaji Rp 200.000 per orang per hari.

“Kurang lebih 15 orang,” kata Andi seperti dikutip dari Sumsel Tribune, Senin (12/4/2021).

Baca Juga: Penggerebekan Desa Narkoba, Polisi Tangkap 65 Orang, 1 Di antaranya Istri Bandar Besar, 1,5 Kg Sabu Dijamin

Ilustrasi CCTV.SHUTTERSTOCK Ilustrasi CCTV.

Kubu

Andi menuturkan, kampung narkoba memiliki benteng pertahanan yang kuat.

Benteng yang dimaksud adalah sistem pengawasan yang ketat, baik dari kamera CCTV maupun pemantauan dari gedung-gedung tinggi.

Penjaga ini dilengkapi dengan cerewet (HT) untuk berkomunikasi satu sama lain.

Ada empat titik yang diincar aparat yakni Manggis Lorong, Cek Latah, Segayam Lorong dan Masjid Lorong yang masih berada di kawasan Tangga Buntung.

“Benteng mereka akan memberikan informasi orang dalam jika orang luar masuk. Kami akan menangkap semua yang ini,” kata Andi.

Baca juga: Cerita Polisi Tentang Benteng di Kampung Narkoba Palembang yang Sulit Ditembus

Kawasan yang belum terjamah, diduga ada dukungan dari oknum-oknum

Ilustrasi obatKOMPAS.COM/HANDOUT Ilustrasi obat

Aparat keamanan belum menyentuh area Tangga karena ada dukungan dari oknum tertentu.

“Tangga Buntung ini desa narkotika yang tidak bisa disentuh. Banyak oknum yang mendukungnya,” kata Andi.

Namun, dengan perencanaan strategis yang matang selama sepekan, operasi tersebut dinilai berhasil, meski ada pelakunya yang lolos.

“Seorang pedagang atas nama Ateng berhasil lolos, tapi kami menangkap istrinya HJ dan satu lagi bernama Juni,” katanya.

“HJ istri kota besar. Suaminya sudah kita tetapkan. Saat digerebek rumah HJ, ditemukan sabu-sabu di langit-langit rumah. Ada 1,5 kilogram,” lanjutnya.

Baca juga: Desa Narkotika di Palembang Digerebek, Polisi: Pernah Ada Anggota Jatanras Tangkap Pelaku Tindak Pidana Tusuk

Ilustrasi melarikan diri.THINKSTOCKPHOTOS Ilustrasi melarikan diri.

Lari ke sungai

Sejumlah warga kampung narkoba juga sempat kabur dan melakukan tindakan gegabah dengan menceburkan diri ke Sungai Musi.

Namun hal tersebut sudah diantisipasi oleh aparat agar tindakan mereka yang hendak kabur bisa diatasi.

Selain menangkap 65 orang, polisi juga menyita 1,5 kg sabu, 8 senjata tajam, 42 petasan, 41 bong, dan 1 botol para cuka.

Kemudian ada 5 timbangan digital, 2 HT, 33 HP, 1 unit decoder CCTV, 73 korek api, 109 buah pir, dan 2 mobil CRV.

Sumber: Kompas.com (Penulis: Kontributor Palembang, Aji YK Putra | Editor: Farid Assifa, Abba Gabrilin), Sumsel Tribune

Sebagian dari artikel ini telah dimuat di Tribunsumsel.com dengan judul Desa Narkotika Palembang Telah Membayar Rakyat, Tugasnya Menyalakan Petasan Saat Polisi Datang

Source