Diumumkan Minggu Ini atau Minggu Depan

Jakarta, CNBC Indonesia– Menteri Koordinator Bidang Koordinator Bidang Perekonomian Marves Luhut Binsar Panjaitan menyampaikan bahwa jajaran direksi Indonesia Investment Authority (INA) atau Sovereign Wealth Fund (SWF) akan diumumkan minggu ini atau paling lambat minggu depan.

“Saya berharap minggu ini atau minggu depan kami bisa mengumumkan siapa BoD (direksi / direksi) yang akan mengurus otoritas investasi,” kata Luhut di Mandiri Investment Forum 2021, Rabu (3/2/2021).

Pemerintah masih menyeleksi sejumlah nama untuk duduk di lembaga yang akan menjadi pemimpin baru di Indonesia. Seleksi dilakukan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri BUMN Erick Thohir, dan jajaran pengawas profesional yaitu Darwin Cyril Noerhadi, Yozua Makes, dan Haryanto Sahari.

“Kami yakin mereka bisa mendapatkan yang terbaik untuk menjalankan organisasi ini,” tambah Luhut.

Tiga nama dikabarkan menyatu dalam pemilihan petinggi LPI, yakni Direktur Utama PT Bank Permata Tbk (BNLI), Ridha Wirakusumah, Direktur Utama PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) Tigor M. Siahaan, dan Arief Budiman , mantan Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero)).

Namun, ada nama lain yang dikabarkan bakal masuk dalam pasar pemilu, yakni mantan menteri perdagangan yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Gita Wirjawan, Rizal Gozali yang merupakan Direktur Utama Credit Suisse Sekuritas. Indonesia. kemudian mantan Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong.

Pemerintah sedang dalam proses menawarkan aset investasi senilai US $ 5 miliar-US $ 6 miliar atau kisaran Rp 70 triliun-Rp 84 triliun (asumsi kurs Rp 14.000 / US $) melalui Indonesia Investment Authority (INA ) dana abadi, Sovereign Wealth Fund (WSF) yang baru dibentuk Pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Namun proses ini masih cukup panjang, namun ditargetkan rampung tahun ini atau tahun depan.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan saat ini pemerintah masih membahas uji tuntas, penataan, valuasi, dan tingkat aset yang akan ditawarkan kepada investor INA.

“Tapi, dengan menempatkan aset US $ 5 miliar hingga US $ 6 miliar pada level transaksi, kami juga bisa menyelesaikan sebagian tahun ini dan tahun depan. Oleh karena itu kami berada di level teratas dan kesepakatan dibuat di level transaksi dan tingkat aset, “kata Kartika dalam sebuah pernyataan. Mandiri Investment Forum 2021, Rabu (3/2/2021).

Ia mengatakan, jika aset ini berhasil ditawarkan kepada investor, maka akan menjadi penentu rencana ke depan.

Pasalnya, pemerintah berencana mengembangkan aset yang diinvestasikan tidak hanya berbasis infrastruktur, tetapi juga teknologi dalam negeri dan aset digital.

“Saya pikir jika kita bisa membuat kesepakatan yang bagus katakanlah empat atau lima transaksi di masa depan. Saya pikir ada kemungkinan besar kita bisa menarik dana yang lebih besar di masa depan, dan kita juga bisa menempatkan aset yang lebih sehat untuk ditransfer ke INA, dan dalam jangka menengah-panjang, hal itu dimungkinkan, ”lanjut mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini.

Ia pun optimistis nantinya INA mampu mendatangkan dana yang besar untuk ditanamkan di dalam negeri dengan menawarkan investasi yang besar pula di Indonesia. Hal tersebut mulai ditunjukkan dengan minat dari beberapa calon investor global.

Sebelumnya, dia menargetkan dalam 2 tahun ke depan, INA bisa menarik dana hingga US $ 20 miliar atau setara Rp. 280 triliun.

[Gambas:Video CNBC]

(dob / dob)


Source