Diduga melanggar hak paten, Apple didenda Rp4,4 triliun

KOMPAS.com – Apple kembali tersandung masalah hukum. Perusahaan asal Cupertino, California, Amerika Serikat itu kalah dalam persidangan terkait dugaan pelanggaran paten. Tuduhan itu diajukan oleh perusahaan lisensi Personalised Media Communications LLC (PMC).

Raksasa teknologi itu diduga melanggar hak paten terkait hak digital. PMC sendiri dikenal sebagai perusahaan asal Sugarland, Texas, USA yang bergerak di bidang perizinan.

Berdasarkan keputusan tersebut, juri federal di Texas, AS, memerintahkan Apple untuk membayar ganti rugi sebesar 308,5 juta dolar AS atau sekitar Rp4,4 triliun.

Namun, Apple berpendapat bahwa PMC tidak memiliki produk apa pun. Apple juga mengatakan bahwa gugatan tersebut merupakan upaya PMC untuk mendapatkan keuntungan dan merugikan konsumennya.

“Gugatan ini diajukan oleh perusahaan yang tidak pernah benar-benar membuat atau menjual produk apa pun. Ini dilakukan hanya untuk membungkam inovasi dan merugikan konsumen kami,” kata Apple dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Jual iPhone Tanpa Charger, Apple Denda Rp 27 Miliar

Seperti yang telah dikompilasi KompasTekno dari Reuters, Selasa (23/3/2021), Apple juga akan mengajukan banding dalam beberapa waktu mendatang.

Gugatan yang diajukan oleh PMC terhadap Apple dimulai pada tahun 2015. Saat itu, layanan musik Apple, iTunes, dituduh melanggar tujuh paten yang dimiliki oleh PMC.

Apple kemudian menggugat PMC di kantor paten AS. Namun, pengadilan banding Apple pada Maret 2020 membatalkan keputusan tersebut.

Gugatan paten yang diajukan PMC tak hanya mengancam Apple, tapi juga perusahaan teknologi lain, seperti Google, Amazon, dan Netflix.

Sebelumnya, Apple juga belum lama ini juga didenda oleh regulator perlindungan konsumen Brasil, Procon-SP. Denda itu dijatuhkan karena Apple tidak mencantumkan kepalanya pengisi daya dalam paket pembelian iPhone 12 yang diluncurkan Oktober 2020 lalu.

Baca juga: Apple Punya Tim Khusus Pemberantasan Produk Palsu di Medsos

Denda yang harus dibayar Apple mencapai 1,9 juta dolar AS atau sekitar Rp. 27,3 miliar.

Pada Desember 2020, atau dua bulan setelah lini iPhone 12 diluncurkan, Procon-SP telah meminta vendor tersebut smartphone asal Amerika Serikat pun menyediakan kepala pengisi daya dengan setiap pembelian perangkat.

Source