Cek dulu, berikut daftar penyakit bawaan yang diperbolehkan dan tidak disuntik dengan vaksin Covid-19

Bisnis.com, JAKARTA – Vaksin Covid-19 memang menjadi salah satu cara dan upaya paling ampuh untuk menekan angka penularan. Meski demikian, pelaksanaan vaksinasi masih harus melewati izin yang cukup ketat, terutama bagi masyarakat yang memiliki penyakit bawaan.

Jarir At Thobari dari FKKMK UGM menyampaikan bahwa penggunaan vaksin dapat melalui proses Emergency Use Authorization (EUA). Proses ini telah lama digunakan ketika virus H1N1 hadir.

“Jadi memang ada dua jenis perbedaan regulasi, seperti Badan POM dalam pemberian izin penggunaan suatu produk farmasi. Yang pertama disebut izin edar, sehingga memberikan otorisasi untuk memasarkan produk tersebut kepada industri yang memproduksi produk obat atau vaksin. , ”ujar Jarir dalam virtual talk“ Vaksin COVID-19, Tidak Tahu Jadi Tidak Kekebalan. Komorbid, Bisa? ”, Kamis (14/1/2021).

Menurutnya, terdapat beberapa fakta di lapangan yang disebabkan karena masalah kesehatan masyarakat yang sangat besar, maka penggunaan izin penggunaan obat dapat melalui proses yang disebut Emergency Use Authorization atau disebut dengan Izin Penggunaan Darurat.

“Untuk kasus vaksin EUA sebenarnya sudah sangat sering dilakukan. Mungkin masyarakat baru mengetahui kata-katanya saja pada saat pandemi ini. Sebenarnya kita sudah lama menggunakannya karena kita sudah menggunakannya di Kasus H1N1, ”imbuhnya.

Jarir menjelaskan, penderita komorbiditas yang tidak bisa atau tidak layak mendapatkan vaksinasi Covid-19. Berikut daftarnya:

1. Penyakit autoimun sistemik (SLE, Sjogren’s, vasculitis, dan autoimun lainnya). Pasien tidak disarankan untuk diberikan vaksin Covid-19 sampai hasil penelitian yang lebih jelas dipublikasikan.

2. Sindrom IgE hiper. Penderita penyakit ini tidak disarankan untuk diberikan vaksin Covid-19 sampai hasil penelitian yang lebih jelas dipublikasikan.

3. Penderita infeksi akut. Pasien dengan penyakit infeksi akut yang ditandai dengan demam dikontraindikasikan untuk vaksinasi.

4. Penyakit ginjal kronik non dialisis (PGK), CKD dialisis, transplantasi ginjal, sindrom nefrotik dengan imunosupresan / kortikosteroid. Pemberian vaksin belum direkomendasikan pada pasien dengan penyakit ini karena belum ada uji klinis mengenai kemanjuran dan keamanan vaksin pada populasi ini.

5. Hipertensi atau tekanan darah tinggi. Beberapa uji klinis dari sejumlah vaksin Covid-19 telah mempelajari pasien hipertensi. Sayangnya, penderita penyakit ini belum disarankan untuk mendapatkan vaksin Covid-19 karena belum ada rekomendasi. Rekomendasi menunggu hasil uji klinis di Bandung.

6. Gagal jantung. Tidak ada data tentang keamanan vaksin pada pasien ini.

7. Penyakit jantung koroner. Belum ada data terkait keamanan vaksin Covid-19 untuk penyakit ini.

8. Reumatik autoimun (autoimun sistemik). Sampai saat ini belum ada datanya. Pemberian vaksin Covid untuk pasien-pasien ini harus mempertimbangkan risiko dan manfaat secara individu kasus per kasus, dan membutuhkan keputusan yang tepat dari pasien.

9. Penyakit gastrointestinal. Untuk penyakit gastrointestinal yang menggunakan obat imunosupresan sebenarnya boleh saja diberikan vaksinasi Covid-19. Hanya saja respon imun yang terjadi tidak sesuai harapan.

10. Hipertiroid / hipotiroidisme karena autoimunitas, tidak dianjurkan pemberian vaksin Covid-19 sampai ada hasil penelitian yang jelas.

11. Kanker. Studi klinis Sinovac tidak melibatkan pasien dengan kondisi tersebut. Tidak ada data tentang kelompok ini, sehingga tidak ada rekomendasi mengenai pemberian vaksin yang dapat dibuat.

12. Onkologi hematologi pasien. Studi klinis Sinovac juga tidak melibatkan pasien dengan kondisi ini, sehingga tidak ada rekomendasi yang dapat dibuat mengenai pemberian vaksin Sinovac pada kelompok ini.

Namun, bukan berarti pasien komorbiditas tidak bisa divaksinasi. Orang-orang dalam kelompok ini masih bisa mendapatkannya dari komorbiditas pada penyakit seperti ini:

1. Reaksi anafilaksis yang bukan akibat vaksinasi Covid-19

2. Riwayat alergi obat

3. Riwayat alergi makanan

4. Asma bronkial (bila penderita asma akut, dianjurkan untuk menunda vaksinasi sampai asma penderita terkontrol dengan baik.)

5. Rinitis alergi

6. Urtikaria (jika tidak ada bukti urtikaria atau gatal-gatal / ruam kulit akibat vaksinasi, maka vaksin sesuai. Tetapi jika ada bukti urtikaria, keputusan dokter untuk memberikan vaksin. Pemberian antihistamin adalah direkomendasikan sebelum vaksinasi.)

7. Dermatitis atopik

8. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) (Penderita PPOK eksaserbasi akut disarankan untuk menunda vaksinasi sampai kondisi eksaserbasi hilang.)

9. Tuberkulosis. Pasien TB, termasuk TB paru, harus menerima vaksin Covid-19 setidaknya dua minggu setelah menerima obat anti tuberkulosis.

10. Kanker paru-paru (Pasien kanker paru-paru yang menjalani kemoterapi / terapi bertarget berhak mendapatkan vaksinasi.)

11. Penyakit Paru Interstitial (ILD). Bisa mendapatkan vaksin jika dalam kondisi baik dan tidak dalam kondisi akut.

12. Penyakit hati. Pengkajian kebutuhan vaksinasi pada pasien penyakit hati kronik harus dikaji sejak awal, saat vaksinasi paling efektif / respon vaksinasi optimal. Jika memungkinkan, vaksinasi diberikan sebelum transplantasi hati.)

13. Diabetes Mellitus (DM). Penderita diabetes tipe 2 terkontrol dan HbA1C di bawah 58 mmol / mol atau 7,5 persen dapat diberikan vaksin.

14. HIV. Vaksinasi yang mengandung kuman mati / komponen kuman tertentu dapat diberikan meskipun CD4200.

15. Obesitas. Pasien obesitas tanpa penyakit penyerta yang parah bisa mendapatkan vaksin.

16. Nodul tiroid, bila tidak ada keganasan tiroid, penderita bisa mendapat vaksin.

17. Donor darah. Donor darah harus divaksinasi gratis setidaknya selama empat minggu, untuk semua vaksin. Jika vaksin Sinovac diberikan dengan interval dua minggu antar dosis, maka setelah enam minggu donor dapat kembali.

18. Gangguan psikosomatis. Sangat disarankan agar dilakukan komunikasi, informasi dan edukasi yang memadai kepada penerima vaksin.

Untuk itu perlu dilakukan identifikasi masalah pada gangguan psikosomatis, terutama gangguan kecemasan dan depresi. Orang yang mengalami stres berat (kecemasan / depresi) harus memperbaiki kondisi klinisnya sebelum menerima vaksin.

# satgascovid19 #rememberpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun

Konten Premium

Masuk / Daftar


Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga yang terkena virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, bantu donasi sekarang! Klik di sini untuk lebih jelasnya.

Source