Cara yang Sama untuk Mengatasi TB dan COVID-19l

Jakarta, 23 Maret 2021

Wakil Ketua Panitia Ahli Pengendalian Tuberkulosis 2021 Prof.Tjandra Yoga Aditama mengatakan dari program penanggulangan COVID-19, seperti tes, penelusuran, dan pengobatan, hal yang sama juga bisa dilakukan untuk penyakit tuberkulosis (TBC). Maka pemakaian masker juga jelas dapat mencegah penularan COVID-19 dan mencegah penularan TB.

Hal tersebut ia sampaikan pada Konferensi Pers Hari TBC Sedunia secara virtual di Jakarta, Selasa (23/3).

“Jadi masker ini memang penting untuk mengurangi penularan semua penyakit yang dikeluarkan melalui saluran pernafasan. Kami berharap semua pelayanan kesehatan dapat berjalan dengan baik dalam menangani COVUD-19 dan juga untuk pengobatan tuberkulosis,” ujarnya.

Misalnya pelacakan kontak kasus positif COVID-19 dilakukan untuk mencegah penularan. Demikian pula pelacakan kontak pasien TB diperlukan untuk mencegah penularan.

COVID-19 tidak akan selesai jika hanya bertumpu pada pemerintah, harus ada keterlibatan masyarakat untuk menangani penyakit tersebut. Hal yang sama berlaku untuk TBC.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia, termasuk Indonesia. Diperkirakan ada 845 ribu kasus TB biasa dan 24 ribu kasus TB resisten di Indonesia.

Dalam situasi pandemi, dari 845 kasus TB yang seharusnya ditemukan pada tahun 2020, hanya 350 ribu atau 349 ribu kasus yang harus ditemukan. Sedangkan untuk kasus TB resisten, dari perkiraan 24 ribu kasus yang seharusnya ditemukan, hanya 860 kasus.

Persentase kasus yang ditemukan pada 2018 dan 2019 adalah 60%. Namun ternyata pada tahun 2020 yang terjadi justru sebaliknya, hanya 30% kasus yang ditemukan.

“Ini alarm bagi kita di tahun 2021 untuk segera kembali ke jalurnya agar kita bisa segera menemukan jumlah kasus sesuai perkiraan sebelumnya,” kata dr. Nadia.

Selama pandemi COVID-19, pelayanan TB dilakukan dengan protokol kesehatan sesuai situasi pandemi COVID-19. Pelayanan TB dipastikan terus berjalan dan frekuensi temuan pasien TB tidak akan menurunkan kualitas.

Ini dilakukan dengan memantau pengobatan secara elektronik melalui WhatsApp atau sarana elektronik lainnya.

“Jadi setiap hari pasien dihubungi melalui sarana komunikasi baik dengan pasien maupun keluarga pasien. Jadi saat minum obat di puskesmas atau di rumah sakit akan ditanyakan nomor kontaknya agar bisa dipantau secara elektronik,” tuturnya. dr. Nadia.

Selain itu, ada juga kebijakan untuk mengendurkan jeda minum obat. Pada penderita TB yang sensitif untuk fase intensif, obat TB dapat diberikan dalam jangka waktu 14 sampai 28 hari, sedangkan pada pengobatan tindak lanjut intervalnya adalah 28 hari sampai 56 hari, sebelumnya hanya 2 minggu.

Penderita TB yang resistan terhadap obat juga diberikan kemudahan yaitu setiap 7 hari dan tindak lanjut pada fase 14 sampai 28 hari.

“Kami mengimbau masyarakat yang mengalami gejala batuk lebih dari dua minggu atau batuk yang tidak diketahui bisa disembuhkan dengan obat batuk biasa untuk segera berobat ke fasilitas kesehatan. Tidak perlu takut berobat ke puskesmas. atau rumah sakit, ”katanya.

Hotline Virus Corona 119 ext 9. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pengabdian Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor hotline Halo Kementerian Kesehatan melalui hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email [email protected] (D2)

Kepala Biro Komunikasi dan Pengabdian Masyarakat

drg. Widyawati, MKM

Source