Cadangan Devisa Indonesia Kalah ke Thailand & Singapura, Bahaya?

Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Indonesia (BI) mengumumkan cadangan devisa pada akhir Maret 2021 sebesar US $ 137,09 miliar. Turun sekitar US $ 1,7 miliar dibandingkan bulan sebelumnya.

Penurunan posisi cadangan devisa pada Maret 2021 terutama dipengaruhi oleh pembayaran ULN pemerintah sesuai pola jatuh tempo pembayaran. Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa cukup memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek perekonomian yang terjaga, sejalan dengan berbagai respons kebijakan untuk mendorong pemulihan ekonomi, “kata pernyataan resmi BI yang dirilis kemarin.

Penurunan pada Maret 2021 memutus rantai penambahan cadangan devisa yang sebelumnya terjadi selama tiga bulan berturut-turut. Kenaikan selama tiga bulan tersebut membuat cadangan devisa Indonesia mencapai US $ 138,79 miliar pada Februari 2020, tertinggi sepanjang sejarah.

Selain pelunasan utang pemerintah, koreksi cadangan devisa tampaknya juga disebabkan oleh perlunya stabilisasi nilai tukar rupiah. Maklum, bulan lalu rupiah sempat mengalami sedikit tekanan hingga melemah hampir 2% terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Untuk stabilisasi nilai tukar, BI melakukan intervensi di tiga pasar, yakni Domestik Non-Deliverable Forward (DNDF), titik, dan Surat Utang Negara atau Surat Berharga Negara (SBN). Dari ketiga ‘warung’ tersebut, posisi BI lebih terlihat di pasar SBN.

Hingga akhir Maret 2021, nilai kepemilikan SBN yang digunakan BI untuk operasi moneter mencapai Rp516,8 triliun. Meningkat sebesar Rp39,28 triliun (8,22%) dari akhir Februari 2021.

Dalam menjaga nilai tukar rupiah, BI telah melakukan apa yang disebut ‘suction and spray’. Jika pasokan valas dalam negeri dinilai terlalu rendah sehingga rupiah melemah, BI akan ‘menyemprot’ pasar dengan likuiditas, salah satunya dengan membeli SBN. Inilah yang dilakukan MH Thamrin bulan lalu.

Halaman Berikutnya -> Cadangan Devisa Hanya Lapisan Pertama ‘Pertahanan’

Source