Bank Mengeluh Banyak Uang kepada Perusahaan Besar Tapi Enggan Memberikan Kredit

Jakarta, CNN Indonesia –

Perbankan BUMN mengeluh pelanggan perusahaan besar yang enggan mengambil kredit dari perbankan untuk mengembangkan bisnis. Mereka lebih suka menggunakan dana internal mereka untuk ekspansi daripada mengambil kredit di bank.

Padahal, mereka punya dana besar yang disimpan di bank. Direktur Utama PT BNI (Persero) Tbk Royke Tumilaar menyatakan, kondisi tersebut berdampak pada peningkatan dana pihak ketiga (DPK) perbankan. DPK perseroan tercatat naik 10,6 persen dari Rp614,31 triliun menjadi Rp697,45 triliun pada 2020.

Namun, penyaluran kredit Bank BNI hanya tumbuh 5,3 persen dari Rp 556,77 triliun menjadi Rp 586,2 triliun sepanjang 2020.


Tunai (kas mereka) ada di bank besar, makanya simpanan di bank cukup besar, ”ujarnya dalam rapat kerja gabungan dengan Komisi XI, Kamis (4/2).

Royke mengatakan kecenderungan perusahaan besar ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi perbankan di tanah air.

“Perusahaan yang besar dan solid rata-rata memiliki kelebihan dana yang cukup besar dan akan melakukan ekspansi tahun ini, mereka memilih menggunakan dana sendiri daripada menggunakan dana kredit., Besar, dan sehat arus kas jumlah yang besar, dan dananya masih diparkir di bank, “ujarnya.

Senada, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Darmawan Junaidi juga mengeluhkan kondisi yang sama. Menurut dia, korporasi enggan mengambil pinjaman meski bank telah menurunkan suku bunga kredit.

“Perusahaan besar kelebihan beban tunai dan tidak mengarah pada investasi baru, apalagi tidak meminta kredit. Dana masuk, padahal kita membayar penurunan suku bunga dengan tren yang terjadi di pasar, ”ujarnya.

Tercatat penyaluran kredit perseroan turun 1,61 persen dari Rp 907,5 triliun menjadi Rp 892,8 triliun sepanjang 2020. Rinciannya, kredit ritel turun paling tajam sebesar 4,80 persen dari Rp 276 triliun menjadi Rp 262,7 triliun dan kredit grosir turun 3 persen dari Rp 516,4 triliun menjadi Rp 500,9 triliun.

Sedangkan kredit untuk anak usaha masih tumbuh 12,25 persen dari Rp115,1 triliun menjadi Rp129,2 triliun.

Di sisi lain, DPK meningkat signifikan sebesar 12,24 persen dari Rp933,1 triliun menjadi Rp1.047,3 triliun. Terdiri dari DPK yang naik tajam 20,13 persen dari Rp262,9 triliun menjadi Rp286,5 triliun dan giro tumbuh 20,13 persen dari Rp236,4 triliun menjadi Rp284 triliun.

Sementara tabungan meningkat 7,23 persen dari Rp315,9 triliun menjadi Rp338,7 triliun dan dana pihak ketiga pada anak perusahaan tumbuh 17,24 persen dari Rp118 triliun menjadi Rp138,4 triliun.

[Gambas:Video CNN]

(ulf / Agustus)


Source