Aneh jika FPI Dibubarkan, Uangnya Masih Berjalan dan Beredar

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Dian Ediana Rae menyampaikan alasan pihaknya memblokir rekening Front Pembela Islam (FPI) setelah pemerintah dibubarkan.

Dian beralasan, PPATK perlu menelusuri jejak keuangan FPI, karena kegiatan keuangan merupakan bagian dari semua kegiatan organisasi kemasyarakatan.

“Ini komponen penting organisasi, ini komponen uang. Uang ini juga aneh kalau FPI bubar, tapi uangnya bekerja dan beredar, aneh juga,” kata Dian dalam diskusi virtual di kanal YouTube. Medcom.id, Minggu (17/1/2021).

Baca juga: PPATK telah membekukan sementara 87 akun FPI dan afiliasinya

“Jadi, kita memang harus mengambil langkah-langkah untuk memastikan ada tidaknya sesuatu yang melanggar peraturan dan perundang-undangan pemerintah,” kata Dian.

Ia mengatakan, pemblokiran rekening FPI juga bertujuan untuk mengetahui sumber dan penggunaan dana FPI selama ini.

Dian mengatakan, pemblokiran rekening FPI dan orang-orang yang berafiliasi dengan organisasi seperti Munarman juga memudahkan mereka melacak sumber dan alokasi dana yang diperoleh.

“Kalau tidak, rekeningnya tetap akan pindah, ini tidak bisa dicek. Karena kita ukur ketika pemerintah mengambil keputusan, lalu kita blokir, baru kita lihat sekarang. Proses analisisnya yang sedang kita lakukan,” tuturnya. Dian.

Hingga saat ini, PPATK telah membekukan sementara 87 akun milik FPI dan afiliasinya hingga Senin (11/1/2021). Jumlah itu meningkat sejak Jumat (8/1/2021). Saat itu, PPATK membekukan 79 akun yang terafiliasi dengan FPI.

Baca juga: Akun FPI dan Afiliasinya Dibekukan Sementara, PPATK Anggap Proses Normal

Proses analisis yang dilakukan oleh PPATK masih terus berjalan, sehingga belum bisa disimpulkan ada dugaan adanya tindak pidana atau tidak. Nantinya, hasil analisis dan pemeriksaan tersebut akan diserahkan kepada aparat penegak hukum, dalam hal ini kepolisian.

Source