Alibaba buka suara setelah didenda Rp. 40 triliun oleh pemerintah China

Jakarta, CNN Indonesia –

Alibaba Kelompokkan pemungutan suara pertanyaan terbuka baik 18 milyar yuan atau setara dengan Rp. 40,49 triliun yang dijatuhkan pemerintah Cina terhadap mereka karena dugaan pelanggaran aturan anti-monopoli.

Co-Founder dan Executive Vice Chairman Alibaba Group Joe Tsai mengatakan kepada CNN bahwa perusahaan tidak akan mengajukan banding atas denda terbesar dalam sejarah.

“Dengan putusan hukuman ini, kami telah menerima pedoman yang baik tentang beberapa masalah spesifik terkait undang-undang anti-monopoli,” kata Tsai.

Ia pun berjanji kepada Alibaba Group untuk menghentikan praktik perjanjian eksklusif ini.

“Kami senang bisa melupakan masalah ini,” tambahnya.

Sebagai informasi, China menghukum Alibaba dengan denda Rp 40 triliun setelah hasil investigasi mereka oleh Administrasi Negara untuk Peraturan Pasar (SMAR) menemukan bahwa Alibaba telah mendesak klien untuk tidak berbisnis dengan pesaing mereka di pasar sejak 2015..

Penemuan ini melanggar aturan anti-monopoli dan peredaran barang bebas di China.

[Gambas:Video CNN]

Jika dihitung, dendanya setara dengan 4 persen dari penjualan Alibaba pada 2019 di China. Proses investigasi sendiri berlangsung berbulan-bulan.

Pemerintah China juga sedang menyelidiki perusahaan teknologi besar lainnya, termasuk afiliasi keuangan Alibaba, Ant Group.

Tsai mengatakan hukuman itu tidak mencapai 20 persen dari arus kas Alibaba dalam 12 bulan terakhir. Secara terpisah, CEO Daniel Zhang menambahkan bahwa mengubah perjanjian dengan pedagang di Alibaba tidak akan berdampak besar pada bisnis perusahaan.

Usai pengumuman denda, saham Alibaba naik lebih dari 6 persen pada Senin (13/4) kemarin. Meski, harga sahamnya masih lebih rendah 20% dibanding November lalu, karena regulator China menunda rencana Initial Public Offering (IPO) Ant Group.

Alibaba adalah salah satu grup bisnis terkemuka di sektor teknologi di China. Grup ini didirikan oleh Jack Ma.

Namun, saham perusahaan telah merosot sejak pemerintah China memperketat kontrolnya terhadap perusahaan. Ini adalah tindakan keras oleh Presiden Xi Jinping sebagai salah satu prioritas utama negara pada tahun 2021 yang dia klaim bertujuan untuk menjaga stabilitas sosial.

Saat ini, Jack Ma sendiri tengah menghilang dari publik setelah melontarkan kritik pedas kepada pemerintah China. Namun, sebuah laporan menyatakan bahwa miliarder tersebut belum menghilang. Wartawan CNBC David Faber melaporkan pada hari Selasa, mengutip sumber yang dekat dengan Ma.

Jack Ma disebut-sebut sengaja tidak tampil ke publik. Faber mengatakan Ma sengaja tidak terlihat oleh publik, tapi dia tidak menghilang.

(ulf / agustus)


Source